TUGAS AKHIR BAGIAN 2
MAKALAH
PENJELASAN FILOSOFIS PERMASALAHAN
PEMBELAJARAN MATEMATIKA
Mata Kuliah - Dosen Pengampu :
Filsafat Ilmu - Prof. Dr. Marsigit, M.A.
disusun oleh :
IMROATUS SYARIFAH
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Pada dasarnya manusia
sebagai makhluk hidup berpikir dan selalu berusaha untuk mengetahui segala
sesuatu, tidak mau menerima begitu saja apa adanya sesuatu itu, selalu ingin
tahu apa yang ada dibalik yang dilihat dan diamati. Segala sesuatu yang
dilihatnya, dialaminya, dan gejala yang terjadi di lingkungannya selalu
dipertanyakan dan dianalisis atau dikaji. Ada tiga hal yang mendorong manusia
untuk berfilsafat yaitu keheranan, kesangsian, dan kesadaran atas keterbatasan.
Berfilsafat kerap kali didorong untuk mengetahui apa yang telah tahu dan apa
yang belum tahu, berfilsafat berarti berendah hati bahwa tidak semuanya akan
pernah diketahui dalam kemestaan yang seakan tak terbatas.
Filsafat
memiliki peranan yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Setidaknya ada
tiga peran utama yang dimiliki yaitu sebagai pendobrak, pembebas, dan pembimbing.
Pendidikan adalah upaya mengembangkan potensi-potensi manusiawi peserta didik
baik potensi fisik potensi cipta, rasa, maupun karsanya, agar potensi itu
menjadi nyata dan dapat berfungsi dalam perjalanan hidupnya. Dasar pendidikan
adalah cita-cita kemanusiaan universal. Pendidikan bertujuan menyiapkan pribadi
dalam keseimbangan, kesatuan. organis, harmonis, dinamis. guna mencapai tujuan
hidup kemanusiaan.
Filsafat
pendidikan adalah filsafat yang digunakan dalam studi mengenai masalah-masalah
pendidikan. Filsafat pendidikan tidak akan terlepas dari kajian Ilmu Filsafat.
Filsafat pendidikan merupakan aplikasi filsafat dalam pendidikan (Kneller,
1971). Pendidikan membutuhkan filsafat karena masalah-masalah pendidikan tidak
hanya menyangkut pelaksanaan pendidikan yang dibatasi pengalaman, tetapi
masalah-masalah yang lebih luas, lebih dalam, serta lebih kompleks, yang tidak
dibatasi pengalaman maupun fakta-fakta pendidikan, dan tidak memungkinkan dapat
dijangkau oleh sains pendidikan. Dalam tulisan ini akan membahas tentang objek
dan fenomena pembelajaran yang ada di sekolah yang dijelaskan secara filosofis
dan mengidentifikasi permasalahan pembelajaran matematika di sekolah.
B.
Rumusan
Masalah
1. Apa
penjelasan filosofis tentang suatu objek matematika di sekolah?
2. Apa
penjelasan filosofis tentang fenomena pembelajaran matematika di sekolah?
3. Bagaimana
identifikasi permasalahan pembelajaran matematika di sekolah?
C.
Tujuan
Penulisan
1. Untuk
mengetahui penjelasan filosofis tentang suatu objek matematika di sekolah.
2. Untuk
mengetahui penjelasan filosofis tentang fenomena pembelajaran matematika di
sekolah.
3. Sebagai
identifikasi permasalahan pembelajaran matematika di sekolah.
PEMBAHASAN
A.
PENJELASAN
FILOSOFIS
1. Penjelasan Filosofis terhadap Objek
Matematika di SMP
Pembelajaran
matematika di SMP memiliki lingkup yang cukup luas, salah satunya yaitu objek
geometri khususnya lingkaran. Secara matematika, lingkaran memiliki beberapa
makna. Pertama, lingkaran adalah himpunan titik-titik pada bidang datar yang
berjarak sama dari suatu titik tetap di bidang tersebut. Kedua, lingkaran
adalah sebuah garis lengkung yang bertemu kedua ujungnya sedangkan semua titik
pada garis tersebut sama jauh letaknya dari sebuah titik tertentu. Ketiga,
lingkaran adalah sebuah bidang datar yang memiliki simetri lipat sebanyak tak
terhingga.
Dalam kehidupan,
lingkaran memiliki makna tersendiri. Lingkaran adalah suatu hal yang mengikat
keseluruhan dari kehidupan, baik dari sisi positif maupun sisi negatif.
Lingkaran yang dapat disimbolkan dengan roda pun sering dijadikan perumpamaan,
seperti ungkapan, “Jangan sombong! Roda kehidupan selalu berputar, terkadang
kamu akan berada di posisi teratas dan suatu ketika akan berada di titik terbawah.”
Dalam kehidupan,
Tuhan tidak memberi cobaan baik dalam bentuk kenikmatan maupun maupun
kesengsaraan. Kenikmatan dapat dirasakan dalam bentuk kekayaan, jabatan, atau
hal paling sederhana adalah nikmat sehat. Kesengsaraan dapat berupa sakit,
kemiskinan, atau hanya terjatuh dalam kubangan sampah. Mengapa kubangan samah?
Kubangan sampah disini dapat berarti kotor dan bau. Bau tersebut adalah frase
mengikat yang berarti hinaan atau hal-hal yang tidak kita kehendaki terjadi di
dunia nyata.
Kembali pada pernyataan
roda itu berputar, kalimat tersebut mengartikan bahwa Tuhan selalu menginginkan
yang terbaik bagi yang diciptakannya. Bagaimana cara menggapainya? Berdoa dan
ikhtiar. Ikhtiar ini sejalan dengan istilah vital pada filsafat dimana manusia
memiliki wewenang untuk memili jalan hidupnya, tidak hanya berpangku tangan
menunggu takdir yang akan diterimanya.
Lebih dalam
lagi, lingkaran dapat dihubungkan dengan Hermeneutics
pada filsafat, seperti yang telah dijelaskan oleh Prof. Dr. Marsigit, M.A. pada
perkuliahan sebelumnya. Hidup ini dapat digambarkan dengan garis dan lingkaran
hermeneutika. Garis melambangkan teori atau idelaita kehidupan sedangkan
lingkaran hermeneutika menggambarkan praktik atau relaita kehidupan yang
terjadi. Lingkaran heremenetika ini sebenernya tidak seperti lingkaran pada
matematika dimana kedua ujungnya menyatu. Pada filsafat, lingkaran
heremeneutika digambarkan dengan bentuk spiral yang menandakan proses dari masa
lalu, masa sekarang, dan masa yang akan datang.
Hermeneutika ini
digunakan di setiap kehidupan. Bisa juga dikatakan bahawa hermeneutika adalah
proses menerjemahkan suatu kegiatan. Proses menerjemahkan ini akan selalu
berkembang tetapi dapat juga mengerucut. Dalam melakukan hermeneutika pada
pembelajaran matematika, kita akan bertemu dengan banyak reduksi. Maksud dari
reduksi adalah menentukan pilihan. Kita akan memilih mana yang seharusnya
diajarkan kepada siswa sekolah dan mana yang tidak seharusnya diajarkan, karena
matematika bersifat abstrak, maka dibutuhkan pereduksian dalam
membelajarkannya. Oleh karena itu dalam membelajarkan matematika, sebaiknya
kita paham dalam menyesuaikan ruang dan waktunya. Matematika bagi anak sekolah itu sebenarnya bukan ilmu
tetapi sebuah aktivitas, jadi sebaiknya melibatkan aktivitas dalam proses
pembelajaran. Karena sesulit apapaun pasti ada jalan, seabstrak apapun pasti
ada kongkret, dan sesulit pikiran pasti bisa dikatakan atau dibicarakan.
2.
Penjelasan
Filosofis terhadap Fenomena Pembelajaran Matematika di Sekolah
Pembelajaran matematika di sekolah menjadi
pembelajaran yang dianggap paling berat untuk dijalani, terutama bagi siswa.
Mengapa demikian? Karena siswa mengalami kesulitan belajar. Menurut Djamarah
(2003), kesulitan belajar adalah keadaan dimana peserta didik tidak dapat
melakukan proses belajar dengan baik karena adanya gangguan atau ancaman yang
berasal dari faktor internal maupun eksternal. Secara terperinci, Soejono
menyebutkan bebeapa kesulitan dalam belajar matematika diantaranya : (a)
kesulitan dalam menggunakan konsep, (b) kesulitan dalam menggunakan prinsip,
dan (c) kesulitan memecahkan soal berbentuk verbal.
Kesulitan-kesulitan yang disebutkan oleh Soejono
dapat dikaitkan dengan prinsip yang dikemukakan oleh Immanuel Kant yaitu
tentang a priori dan a posteriori. Pembagian a priori dan a posteriori atas dasar bagaimana mengetahui proposisi tertentu dan
bagaimana justifikasi atas proposisi tersebut (Guyer, 2010). Sebuah proposisi
diketahui secara a priori apabila
proposisi tersebut dapat diketahui secara independen terhadap pengalaman dan
pengamatan empiris. Satu-satunya hal yang digunakan dalam menjustifikasi
proposisi a priori adalah penalaran
dan tidak harus memiliki pengalaman secara langsung untuk mendapatkan suatu
pengetahuan. Prinsip yang kedua adalah justifikasi a posteriori. Sebuah
proposisi dapat diketahui secara a
posteriori jika dibutuhkan adanya data-data empiris serta pengalaman agar
sampai pada proposisi tersebut. Untuk menjustifikasi proposisi a posteriori, tidak bisa dilakukan hanya
dengan duduk berdiam diri. Akan tetapi kita harus melihat sendiri adanya kenyataan
di dunia nyata atau dengan kata lain pengetahuan didapat setelah adanya
pengalaman yang dialami secara langsung. Apa kaitannya a priori dan a posteriori
dengan kesulitan belajar yang dinyatakan oleh Soejono? Mari kita bedah satu per
satu.
Kesulitan dalam menggunakan konsep. Siswa sebenarnya
telah mendapatkan pengetahuan tentang konsep, misal konsep pythagoras. Namun,
ketika dihadapkan dengan permasalahan yang berhubungan dengan konsep tersebut,
siswa masih bingung dalam penggunaannya. Hal ini dapat berarti siswa belum
memiliki prior knowledge yang cukup
dan juga belum banyak memiliki pengalaman dalam menyelesaikan permasalahan
menggunakan konsep. Dengan kata lain, siswa belum cukup a priori dan a posteriori
dalam menggunakan konsep matematika untuk memecahkan permasalahan.
Kesulitan dalam menggunakan prinsip. Kesulitan ini
mencakup siswa tidak mempunyai konsep yang dapat digunakan untk mengembangkan
prinsip sebagai butir pengetahuan yang perlu, siswa miskin dari konsep dasar
secara potensial merupakan sebab kesulitan belajar prinsip yang diajarkan
dengan metode kontekstual (contoh nyata), dan siswa kurang jelas dengan prinsip
yang telah diajarkan.
Kesulitan memecahkan soal berbentuk verbal. Keberhasilan
dalam memecahkan persoalan berbentuk verbal tegantung kemampuan pemahaman
verbal, yaitu kemampuan memahami soal berbentuk cerita dan kemampuan mengubah
soal verbal menjadi model matematika, biasanya dalam bentuk persamaan serta
kesesuaian pengalaman siswa dengan situasi yang diceritakan dalam soal.
Kesulitan ini juga dapat diakibatkan dengan kurangnya pengalaman dalam
mengerjakan soal-soal bentuk cerita atau dapat dikatakan siswa belum memiliki
prinsip a posteriori. Kurangnya
pengalaman ini mengakibatkan kurangnya mendapatkan pengetahuan secara utuh.
Secara filsafat, menurut Marsigit (2014) kesulitan
dapat dimaknai kendala seseorang dalam usahanya menembus ruang dan waktu. Jika
dikaitkan dengan kesulitan belajar, siswa berada pada ruang dan waktu yang
berbeda dengan guru sehingga menyebabkan tidak ada sinkronisasi informasi
antara siswa dan guru. Siswa membutuhkan usaha lebih untuk menembus ruang dan
waktu sang guru untuk memperoleh maksud dan tujuan yang ingin disampaikan oleh
guru.
B.
IDENTIFIKASI
PERMASALAHAN FILOSOFIS PEMBELAJARAN MATEMATIKA DI SEKOLAH
Rendahnya
kualitas pembelajaran matematika akan berdampak terhadap rendahnya hasil
belajar siswa, hal ini ditemukan oleh banyak faktor yang secara umum terdiri
atas faktor eksternal dan internal. Faktor eksternal adalah faktor yang berasal
dari luar guru, misalnya; kurikulum, daya dukung, pembelajaran, dan faktor
lainnya. Sedangkan faktor internal adalah faktor yang berasal dari diri guru
itu sendiri, misalnya kemampuan guru matematika dalam mengemas pembelajaran.
Oleh
karena itu guru perlu mendapat pembinaan dengan media audio visual. Dari proses
pembinaan dengan media audio visual tersebut dapat meningkatkan kemampuan guru
dalam melaksanakan pembelajaran matematika terutama pada aspek kegiatan
pendahuluan (membuka pelajaran), kegiatan inti, penguasaan materi pelajaran,
penggunaan teknik tanya jawab (interaksi), pengolahan kelas/waktu/materi,
penggunaan media belajar, penggunaan bahasa, dan penilaian belajar.
Konten
matematika adalah hal yang abstrak dan objek dasar matematika meliputi fakta,
konsep, prinsip, skill, dan penggunaannya dalam kehidupan sehari-hari. Dalam
penyampaian materi ini jelas guru harus memperhatikan siswanya. Untuk itu perlu
suatu cara yang tepat agar siswa dapat memahami dengan baik dan benar, sehingga
siswa akan memiliki pengalaman belajar yang bermakna. Selain itu, siswa juga
diharapkan dapat memunculkan ketertarikannya dalam pembelajaran matematika
dengan kesadarannya sendiri, bukan paksaan.
Berdasarkan
permasalahan tersebut, maka perlu pengkajian lebih dalam tentang bagaimana cara
menumbuhkan sikap ketertarikan siswa terhadap pembelajaran matematika terutama
dari segi filosofisnya. Pengkajian dari segi filosofis akan menjadikan segala
sesuatu disandarkan kepada konteks baik itu berupa kebaikan sosial, local wisdom, social impact, rasionalitas, dll. Ketika sudah kembali pada
konteksnya, maka akan menjadi titik pencerahan untuk perbaikan pembelajaran di
masa yang akan datang.
PENUTUP
Filsafat mencakup semua
ilmu, terlebih dalam filsafat pendidikan khususnya dalam pembelajaran di
sekolah. Dengan penerapan filsafat dalam pembelajaran
di sekolah, maka proses belajar mengajar akan berjalan dengan efektif dan
efisien. Filsafat memberikan keuntungan bagi guru dan juga siswa. Bagi guru,
dengan adanya pelajaran filsafat, maka guru akan lebih memahami karakter dari
siswa-siswanya. Belajar filsafat adalah berpikir, sehingga guru dapat
mengetahui sejauh mana pola pikir siswa-siswanya dalam memahami matematika dan
dapat memperkirakan apa yang menjadi kesulitan siswa dalam belajar matematika.
DAFTAR PUSTAKA
Imam Barnadib. 1996. Filsafat Pendidikan . Yogyakarta : Aditya Karya
Nusa.